Saya kurang setuju bila dikata: ilmu semakin berkembang. Sebab ilmu itu memang dari sananya sudah besar, luas dan buanyak (entah apalagi kata yg lebih tepat untuk merepresentasikan luasnya ilmu Tuhan). Yang berkembang bukan ilmu, tapi mata manusia yg semakin terbuka. Hati manusia yg kian menyadari betapa dahsyat alam semesta ini. Akal manusialah yg semakin cerdas. Sebab ilmu itu sudah ada pada-Nya. Karna ilmu manusia berasal dari ilmu-Nya. Dan kita tahu bersama bahwa: andai lautan jadi tinta dan pepohonan jadi pena, masih belum cukup untuk menulis ilmu Tuhan.
Saya ingin bercerita:
Adalah seorang anak di pulau kecil perbatasan indonesia-malaysia. Anak yg sudah beranjak gede. Ia hendak mengadu nasib ke pulau kota (begitulah ia menyebut Batam & Sumatra). Pergilah ia bersama pamanya.
Perjalanan baginya sangat menyenangkan. Ia tak merasa lelah. Karna orang2 lain adalah hal baru yg memukau baginya. Anak ini masih terperangah melihat orang lain yg bicara sendiri dengan benda yg digenggam dan ditempelkan ke telinga.
Sedikit demi sedikit, ia coba memahami hidup di pulau luas nan ramai orang2, yg disebutnya pulau kota ini.
Pagi kedua ia bangun tidur di tanah orang. Pulau kota. Seorang penjual koran lewat di depan rumah kos-nya, menjajakan dagangan.
Ia memperhatikan tetangganya mengulurkan selembar uang 5000an, abang penjual koran memberikan sebendel untuk si tetangga kemudian pergi.
Ia berpikir. Lama. Karena tak habis pikir, ia mengadu pada pamannya.
"Paman, orang tadi telah menipu tetangga sebelah kita. Masak kertas yg sudah kotor dan tidak putih dijual 5000 rupiah. Tapi aneh, tetangga kita itu mau ditipu. Padahal kertas cuma sedikit. Kan di sana.. Banyak harganya cuma 1000rupiah" katanya mengadu.
"Itu namanya surat kabar. Orang kota suka beli surat kabar." jawab si paman.
"Tapi ini penipuan namanya. Kenapa tetangga kita tidak beli surat kabar di sana saja, yang ditimbang, 1000rupiah sudah dapat surat kabar yg banyak" kilahnya tidak terima.
"Surat kabar itu berita, pengetahuan, ilmu... Yg mahal itu kabar beritanya... Ilmunya..." papar si paman agak mulai tak sabar.
"Kata pak guru ngaji-ku itu namanya penipuan, haram, dilarang. Ilmu tidak boleh dijual. Orang pulau kota ini aneh. Surat kabar jadi alat menipu." gumamnya tak terima.
"Sudah, sana bikinkan paman kopi, sana" putus si paman yg sudah tiga tahun kerja di pulau kota, hijrah dari pulau desa.
---
Sebuah cerita kecil ini membawa kerangka realita sederhana yg menunjukkan bahwa, semakin lama mata kita semakin terbuka terhadap ilmu, pengetahuan dan segala yg kita sebut perubahan.
Namun jelas bahwa segala kemajuan kemutahiran ini, untuk mempermudah, memperindah, dan memperbaiki hidup. Lahir dan batin.
Bukan malah mempersulit, mempersusah dan menurunkan kualitas hidup. Lahir batin.
Sukses, menikmati dan mensyukuri hidup lebih pada mindset. Selebihnya adalah aksi mewujudkanya.
Awal mula perkembangan bisnis pun demikian. MLM kali pertama masuk dan dikenalkan dalam hidup manusia, tidak sedikit yg mengharamkan diri. Hingga perkembangan pengetahuan dan cara berbisnis, malah tambah membuat susah mereka yg menutup diri. Toh seiring waktu banyak ulama yg mengkaji MLM, kemudian bergabung. Bahkan muncul 5 MLM baru yg didirikan ulama. Salah satunya MQ-Net.
Mari terbuka pada perubahan, berpikir positif, bertindak positif dan sukses-bahagia.
Mari kita menyambut perubahan dg positive thinking, ber-husnudzon bisnis dan enjoy menjalankan bisnis. Meski tetap harus berhati-hati. Sukses. Be positive, be happy...