Filosofi Memanah

Oleh : Andrie Wongso

Alkisah, di suatu senja yang kelabu, tampak sang raja beserta rombongannya dalam perjalanan pulang ke kerajaan dari berburu di hutan. Hari itu adalah hari tersial yang sangat menjengkelkan hati karena tidak ada satu buruan pun yang berhasil dibawa pulang. Seolah-olah anak panah dan busur tidak bisa dikendalikan dengan baik seperti biasanya.

Setibanya di pinggir hutan, raja memutuskan beristirahat sejenak di rumah sederhana milik seorang pemburu yang terkenal karena kehebatannya memanah. Dengan tergopoh-gopoh, si pemburu menyambut kedatangan raja beserta rombongannya.

Setelah berbasa-basi, tiba-tiba si pemburu berkata, "Maaf baginda, sepertinya baginda sedang jengkel dan tidak bahagia. Apakah hasil buruan hari ini tidak memuaskan baginda?"

Bukannya menjawab pertanyaan, sang raja malah beranjak menghampiri sebuah busur tanpa tali yang tergeletak di sudut ruangan. "Pemburu, kenapa busurmu tidak terpasang talinya? Apakah engkau sudah tidak akan memanah lagi?" tanya sang raja dengan nada heran dan terkejut.

"Bukan begitu baginda, tali busur memang sengaja hamba lepas agar busur itu bisa ‘istirahat'. Jadi, ketika talinya hamba pasang kembali, busur itu tetap lentur untuk melontarkan anak panahnya. Karena berdasarkan pengalaman hamba, tali busur yang tegang terus menerus, tidak akan bisa dipakai untuk memanah secara optimal".

"Wah, hebat sekali pengetahuanmu! Ternyata itu rahasia kehebatan memanahmu selama ini ya," kata baginda.

"Memang, kami turun temurun adalah pemburu. Dan pelajaran seperti ini sudah ada sejak dari dulu. Untuk memaksimalkan alat berburu, kebiasaan seperti itulah yang harus hamba lakukan. Mohon maaf baginda, masih ada pelajaran lainnya yang tidak kalah penting yang biasa kami lakukan."

"Apa itu?" tanya baginda penasaran.

"Menjaga pikiran. Karena sehebat apapun busur dan anak panahnya, bila pikiran kita tidak fokus, perasaan kita tidak seirama dengan tangan, anak panah dan busur, maka hasilnya juga tidak akan maksimal untuk bisa mencapai sasaran buruan yang kita inginkan".

Mendengar penjelasan si pemburu, tampak sang raja terkesima untuk beberapa saat. Tiba-tiba tawa sang raja memenuhi ruangan. "Terima kasih sobat. Terima kasih. Hari ini rajamu mendapat pelajaran yang sangat berharga dari seorang pemburu yang hebat."

Setelah cukup beristirahat, raja pun berpamitan pulang dengan perasaan gembira. Dan timbul keyakinan, lain kali pasti akan berhasil lebih baik.

Para pembaca yang luar biasa,

Pengertian tentang mengistirahatkan tali busur (agar saat dipakai lagi tali tetap punya daya lentur yang kuat) dan fokus dalam memanah, sangat baik sekali. Kedua pengertian ini dapat kita aplikasikan ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita butuh keahlian dalam mengatur irama kerja dan saat kapan kita harus beristirahat, agar keefektivitasan kerja tetap terjaga. Dan, kemampuan (untuk) fokus dalam melakukan segala kegiatan harus mampu kita bina dan tumbuh kembangkan.

Dengan kemampuan mengunakan dua kekuatan tadi, tentu kita akan menjadi manusia yang efektif dalam menggeluti usaha dan pasti (hasilnya) akan maksimal dan memuaskan.

Salam sukses luar biasa!!!

[http://www.andriewongso.com/awartikel-3030-Artikel_Tetap-Filosofi_Memanah]

Kebiasaan yang Diulang

Oleh : Andrie Wongso

Di Tiongkok pada zaman dahulu kala, hidup seorang panglima perang yang terkenal karena memiliki keahlian memanah yang tiada tandingannya. Suatu hari, sang panglima ingin memperlihatkan keahliannya memanah kepada rakyat. Lalu diperintahkan kepada prajurit bawahannya agar menyiapkan papan sasaran serta 100 buah anak panah.

Setelah semuanya siap, kemudian Sang Panglima memasuki lapangan dengan penuh percaya diri, lengkap dengan perangkat memanah di tangannya.

Panglima mulai menarik busur dan melepas satu persatu anak panah itu ke arah sasaran. Rakyat bersorak sorai menyaksikan kehebatan anak panah yang melesat! Sungguh luar biasa! Seratus kali anak panah dilepas, 100 anak panah tepat mengenai sasaran.

Dengan wajah berseri-seri penuh kebanggaan, panglima berucap, "Rakyatku, lihatlah panglimamu! Saat ini, keahlian memanahku tidak ada tandingannya. Bagaimana pendapat kalian?"

Di antara kata-kata pujian yang diucapkan oleh banyak orang, tiba-tiba seorang tua penjual minyak menyelutuk, "Panglima memang hebat ! Tetapi, itu hanya keahlian yang didapat dari kebiasaan yang terlatih."

Sontak panglima dan seluruh yang hadir memandang dengan tercengang dan bertanya-tanya, apa maksud perkataan orang tua penjual minyak itu. Tukang minyak menjawab, "Tunggu sebentar!" Sambil beranjak dari tempatnya, dia mengambil sebuah uang koin Tiongkok kuno yang berlubang di tengahnya. Koin itu diletakkan di atas mulut botol guci minyak yang kosong. Dengan penuh keyakinan, si penjual minyak mengambil gayung penuh berisi minyak, dan kemudian menuangkan dari atas melalui lubang kecil di tengah koin tadi sampai botol guci terisi penuh. Hebatnya, tidak ada setetes pun minyak yang mengenai permukaan koin tersebut!

Panglima dan rakyat tercengang. Merela bersorak sorai menyaksikan demonstrasi keahlian si penjual minyak. Dengan penuh kerendahan hati, tukang minyak membungkukkan badan menghormat di hadapan panglima sambil mengucapkan kalimat bijaknya, "Itu hanya keahlian yang didapat dari kebiasaan yang terlatih! Kebiasaan yang diulang terus menerus akan melahirkan keahlian."

Pendengar yang budiman,

Dari cerita tadi, kita bisa mengambil satu hikmah yaitu: betapa luar biasanya kekuatan kebiasaan. Habit is power!

Hasil dari kebiasaan yang terlatih dapat membuat sesuatu yang sulit menjadi mudah dan apa yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Demikian pula, untuk memperoleh kesuksesan dalam kehidupan, kita membutuhkan karakter sukses. Dan karakter sukses hanya bisa dibentuk melalui kebiasaan-kebiasaan seperti berpikir positif, antusias, optimis, disiplin, integritas, tanggung jawab, & lain sebagainya.

Mari kita siap melatih, memelihara, dan mengembangkan kebiasaan berpikir sukses dan bermental sukses secara berkesinambungan. Sehingga, karakter sukses yang telah terbentuk akan membawa kita pada puncak kesuksesan di setiap perjuangan kehidupan kita.

Sekali lagi: Kebiasaan yang diulang terus menerus, akan melahirkan keahlian!

Salam sukses luar biasa!!

**

Cerita ini juga bisa Anda dapatkan di buku "15 Wisdom and Success, Classical Motivation Stories by Andrie Wongso." Sementara audio-nya, terdapat di "CD Audio Book #3, 10 Wisdom & Success by Andrie Wongso."


Be SMART in Life

Oleh : Soegianto Hartono

Rupanya menjalani hidup ini gampang-gampang susah, namun bila kita tahu cara menjalani hidup ini, sesungguhnya gampang saja. Umumnya orang yang menjalani hidup dengan kesusahan, karena mereka tidak tahu cara yang terbaik untuk menjalani hidup ini.

Kalau kehidupan ini diisi dengan keegoisan, ketakutan, kecemasan, prasangka buruk, cemberut & muka ditekuk, maka kehidupan ini akan menjadi tidak nyaman dan menyulitkan. Namun bila kita SMART, hidup ini akan menjadi nyaman dan menyenangkan.

Apa itu SMART? S = Semangat. Menjalani hidup ini haruslah semangat. Masalah hidup selalu ada, tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak pernah menghadapi masalah. Mulai dari masalah keluarga, masalah anak-anak, masalah keuangan, masalah pekerjaan, masalah tetangga, dan lain sebagainya. Bila kita menghadapi semua masalah hidup ini dengan semangat, maka semua masalah itu bisa di atasi dengan mudah, bahkan bisa berubah menjadi berkah. Tetapi sebaliknya bila kita menghadapi dengan kelesuan, ketakutan, atau kejengkelan, masalah itu tidak menjadi selesai, bahkan akan membesar dan menyulitkan hidup kita!Jadi kunci hidup adalah semangat. Dengan semangat barulah kita bisa menghadapi rintangan-ringangan dan keluar sebagai pemenang. Kobarkan terus semangat hidup anda, bangkitkan gairah dan motivasi diri sendiri.

M = Mahir memilih kehidupan. Kita harus mahir memilih kehidupan seperti apa yang ingin kita jalani. Kalau kita tidak memilih, maka akan ada orang lain yang akan memberikan kehidupan bagi Anda dengan risiko mungkin kita tidak suka kehidupan itu. Anda mempunyai kebebasan untuk memilih, gunakan hak ini sebaik-baiknya. Kalau Anda tidak memutuskan pilihan tentang kehidupan yang Anda inginkan, jangan pernah komplain karena memang salah Anda sendiri tidak menggunakan hak pilih anda.

A = Analisa. Kita harus berani dan mampu membuat analisa dan evaluasi diri. Mungkin saja pikiran, ucapan, dan tindakan yang pernah kita lakukan itu salah. Buatlah renungan-renungan untuk merefleksikan apa saja yang telah kita perbuat, lakukan perbaikan sekiranya ada kesalahan-kesalahan yang sengaja maupun tidak anda sengaja. Buatlah komitmen untuk mengaplikasikan perubahan-perubahan yang lebih baik dan jangan malu untuk mengakui kesalahan. Ini kunci untuk melakukan transformasi diri.

R = Rujukan atau referensi. Mau untuk belajar dari pengalaman diri sendiri maupun pengalaman dari orang lain. Jangan mempertahankan keyakinan yang keliru dan yang sudah usang, buka mata hati dan pikiran untuk menerima hal-hal baru. Mungkin saja apa yang pernah kita pelajari sebelumnya atau apa yang kita yakini selama ini sebetulnya keliru dan mempersulit hidup kita sendiri. Anda harus rela dan ikhlas untuk berubah, kalau seandainya keyakinan selama ini salah. Jangan sok gengsi atau mempertahankan sesuatu yang salah, lebih lagi yang mempersulit hidup kita.

T = Tindakan. Lakukan tindakan untuk mengubah keadaan. Lakukan tindakan untuk berubah ke arah yang lebih baik. Tanpa tindakan kehidupan kita belumlah berubah. Semoga bermanfaat bagi anda semua.

Salam Bahagia dan Sejahtera.

[http://www.andriewongso.com/awartikel-3055-Artikel_Tetap-Be_SMART_in_Life]